Pakar-Unair-Ajak-Orang-Tua-Ajari-Anak-Tentang-Pendidikan-Seks

Pakar Unair Ajak Orang Tua Ajari Anak Tentang Pendidikan Seks

Pendidikan seks untuk anak seringkali dianggap sebagai hal yang tabu.

Padahal, pendidikan seks merupakan hal penting yang perlu diajarkan kepada anak, meski tidak ada batasan khusus untuk mulai mengajar anak.

Baca Juga: Dosen Psikologi UI: Mahasiswa Rawan Depresi Dan Stres

Menurut Primatia Yogi Wulandari, pakar psikolog Universitas Airlangga (Unair)

, ada lima indikator yang bisa digunakan orang tua sebagai pedoman dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anaknya.

Pertama, munculnya pertanyaan seputar kehamilan atau persalinan. Kedua, mulailah berteman dengan lawan jenis.

Ketiga, bersosialisasi dengan lingkungan di luar keluarga inti.

Keempat, Anda memiliki akses yang luas terhadap informasi. Dan kelima, saat berlatih membersihkan diri saat buang air besar.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Ingatlah bahwa masalah perilaku seksual hanyalah bagian dari pendidikan seks.

Dapat diajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki organ yang berbeda, kebersihan pribadi termasuk alat kelamin, interaksi dengan lawan jenis, dan peran sebagai laki-laki dan perempuan tetap terjaga. katanya. Website Unair, Rabu (21/7/2021).

Mima menjelaskan, pendidikan seks harus berkesinambungan, bukan kasual.

Karena prinsipnya adalah mengoptimalkan proses belajar anak dan mendorong perkembangan yang positif, terutama yang berkaitan dengan seksualitas.

Baca juga: Pasien Covid-19 Meninggal Karena Interaksi Narkoba, Kata Pakar Unair Ini

Saat mengajarkan pendidikan seks, orang tua perlu menyadari tiga aspek dari materi dan strategi yang digunakan, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

  1. Anak masih berpikir konkrit

Cara berpikir anak yang masih kongkrit memaksa orang tua untuk

menggunakan bahasa dan penjelasan yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak.

Orang tua juga disarankan untuk tidak menggunakan kata ganti untuk istilah alat kelamin.

Anak-anak harus diperkenalkan dengan istilah alat kelamin secara netral dan tanpa rasa malu atau jijik.

Baca juga: Dosen Psikologi Unair Berikan Tips Mengatasi Stres Selama Pandemi Covid-19

“Mudah-mudahan anak-anak bisa melihat aurat sama dengan bagian tubuh lainnya, tapi tetap diperlakukan lebih bernuansa karena lebih private dan mesra,” ujarnya.

  1. Kelompok usia anak

Usia anak menjadi pertimbangan dalam kaitannya dengan detail informasi yang diberikan.

“Pada anak usia dini, informasi tidak boleh diberikan secara detail. Misalnya saat menjelaskan jalannya kehamilan. Bisa dijelaskan bapak punya sperma yang membuahi sel telur ibu,” kata Mima.

Baca juga: Guru Besar Unair Soroti Fenomena Pinjol di Masyarakat

  1. Metode yang sesuai dengan minat anak

Materi yang diberikan dapat dikemas dengan cara yang sesuai dengan minat anak, misalnya anak melalui cerita.

Selain itu, menurut Mima, informasi tentang pendidikan seks anak perlu ditanamkan, dipahami dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Misalnya, Anda bisa berpura-pura orang tua terbuka dan memberikan jawaban positif kepada anak ketika anak meminta pendidikan seks,” katanya.

Kemudian Anda memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua sehingga anak dapat berdiskusi tanpa rasa malu.

Baca juga: Tips melamar kerja di perusahaan multinasional ala Alumni Unair

Orang tua kemudian juga dapat mendiskusikan pertanyaan tentang seksualitas dari berbagai aspek perkembangan, seperti perkembangan kognitif, fisik dan sosio-emosional.

Ia juga mengatakan lembaga pendidikan bisa mulai memikirkan pendidikan seks yang komprehensif dan berkelanjutan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain pendidikan seks dalam kurikulum, mengundang kontak yang terlibat dalam pendidikan seks untuk anak dan orang tua, program konseling, dan menyediakan sumber informasi yang dapat dipercaya untuk anak.

LIHAT JUGA :

serverharga.com
wikidpr.id
riaumandiri.id
dekranasdadkijakarta.id
finland.or.id
cides.or.id

Related Posts